Teori Komunikasi

GRAND THEORIES, MIDDLE RANGE AND SPECIFIC THEORIES

Chairil N. Siregar

 

GRAND THEORIES

1.   Kognisi Individu (David Krech)

Gambaran kognitif seseorang bukan suatu cermin dari dunia fisiknya, namun ia lebih merupakan suatu bagian dari kepribadian, yang di dalamnya obyek-obyek tertentu yang terpilih kemudian memiliki suatu peranan yang besar, kesemuanya itu ditangkap dalam wadah proses terbentuknya kognisi. Setiap organisasi kognisi mempunyai dua faktor penentu utama, yaitu faktor-faktor stimulus dan faktor-faktor personal.

2.   Teori Tongkat Adaptasi (Herons, 1959)

Menurutnya ada tiga tingkat adaptasi, yaitu

§  Stimulus yang direspon merupakan pusat perhatian.

§  Stimulus yang datang mendadak membentuk latar belakang menjadi pusat perhatian.

§  Sisa-sisa pengalaman yang lalu dengan stimulus yang serupa akan menarik perhatian. Dengan demiklan, semua stimulus memberikan batas hubungan tingkat adaptasi.

3.   Teori Keseimbangan dalam Perubahan Kognisi

Balance theory, yaitu suatu petunjuk keseimbangan (balance) yang berada dalam sistem kognisi kepada yang lebih luas, bahwa unsur-unsur dan sistem membentuk kesatuan yang tidak bertentangan dalam interaksi.

4.   Teori Kohesivitas dalam kelompok (seashore, 1954)

Kelompok yang lebih kecil rata-rata Lebih kohesiv dari pada kelompok yang lebih besar begitu pula jangkauannya (range) kohesivitas kelompok yang lebih kccil lebih besar dari pada kelompok yang lebih besar. Manusia cenderung untuk merasa lebih hahagia dalam kelompok yang sedikit.

5.   Teori Pembentukan kelompok (Loomes & Beegie, 1950)

Menurutnya setiap kelompok dibentuk oleh salah satu faktor berikut ini

§  Ikatan pertalian keluarga

§  Keanggotaan kelompok etnis

§  Keanggotaan kelompok keagamaan

§  Usia

§  Jenis kelamin dan Perasamaan nilai dari sikap.

6.   Teori Peradaban manusia

Ibnu Khaldun : Perkembangan masyarakat mengacu kepada kaidah-kaidah tersendiri, sedangkan kaidah-kaidah sosial hanya dapat diketahui apabila data yang dikumpulkan itu dilakukan analisis banding serta dicari korelasinya.

Oswald Spengler : Kewujudan manusia dicirikan oleh kemajuan dan kejatuhan, malahan kemusnahan, yang berulang kali. Peradaban manusia dapat diumpamakan turun-naiknya gelombang lautan, atau kehidupan organ manusia yang menempuh tahapan dari kelahiran – anak-anak – dewasa – tua, dan kematian.

7.   Teori Perkembangan Masyarakat (Ferdinand Tonnies)

Perkembangan masyarakat atau sistem sosial sebagai perubahan linier dimulai dari kecil (sederhana) sampai menjadi besar (kompleks) atau dari Gemeinschaft ke Gesellschaft. Masyarakat adalah karya ciptaan manusia yang merupakan usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi-relasi timbal balik yang mantap. Semua relasi sosial itu adalah ciptaan kemauan manusia, atau kemauan manusia yang mendasari masyarakat itu terdini dari dua jenis, yaitu swecktwille atau arbitary will, kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan; dan tribewille atau essential will, dorongan batin berupa perasaan. Dua bentuk kemauan itu menjelaskan kelahiran dua jenis utama kelompok sosial dan relasi sosial, yang dinamakan gemeinschaft dan gesellschaft.

8.   Teori Evolusi Budaya (Julian H.Stewart)

Budaya manusia itu berkembang menurut beberapa arah yang berbeda. Evolust budaya tidak bersifat unilinter, bahkan multilinter. Evolusi manusia bukanlah semata­mata biologik belaka, malahan merupakan interaksi antara ciri-ciri fisik dan budaya, setiap ciri itu saling mempengaruhi satu sama lainnya. Manusia itu mempunyai upaya untuk menciptakan penyelesaian-penyelesaian yang rasional dalam kehidupan mereka, terutama dalam alam dan masalah-masalah teknis, dan juga mereka berupaya untuk mentransformasi penyelesaian tersebut kepada generasi berikut dan anggota lain dalam masyarakatnya. (teori neo-evo;usionis)

MIDDLE RANGE THEORIES

1.   Teori Penyimpangan

a.    Teori Differential Association (Edwin H. Suterland)

Menurut teori ini penyimpangan bersumber dari pergaulan yang berbeda (Differential Association).

Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses belajar ini seseorang mempelajari deviant sub culture (penyimpangan budaya).

b.   Teori labeling (Edwin M. Lemert)

Menurut teori ini seseorang menyimpang karena adanya proses labeling berupa pemberian julukan, cap, dan etiket, oleh masyarakat. Teori ini menegaskan bahwa terdapat 3 fase dalam teori ini:

§  Fase pertama disebut primer deviation.

Seseorang melakukan penyimpangan karena dilabeli/dinamai sesuatu oleh masyarakat.

§  Fase kedua secondary deviatant.

Pada poses ini seseorang melakukan penyimpangan yang telah diulang-ulang

§  Fase ketiga yaitu fase gaya hidup (deviant life stye)

Penyimpangan bagi seseorang sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya yang kemudian menghasilkan karier menyimpang (deviant career)

c.    Teori Merton

Teori ini merupakan bantahan teori-teori di atas yang hanya melihat dari segi mikro. Sedanngkan teori ini melihat dari sisi makro, yaitu seseorang melakukan penyimpangan karena struktur sosialnya. Menurut teori ini struktur sosial tidak hanya menghasilkan perilaku konformis tetapi       juga menghasilkan perilaku menyimpang.

2.   Teori Sistem Sosial

Teori ini dirumuskan olch Immanuel Wallerstein. Menurut teori ini perekonomian kapitalis dunia kini tersususn atas 3 jenjang:

§  Negara-negara inti (Eropa Barat, Amenka Serikat dan Jepang)

§  Egara semi-penferi (Asia dan Afrika)

§  Negara perileri

3.   Teori Penularan (Le Bon)

Teori ini menggatakan bahwa dalam suatu kerumunan tiap perasaan dan tindakan bersfat menular dan bahwa anggota kerumunan hanya mengikuti naluri, tidak rasional dan tidak mampu mengendalikan perilaku sendiri.

4.   Emergent Norm Theory (Turner Killian)

Teori ini menjelaskan bahwa dalam interaksi yang tidak ada aturannya sering rnuncul aturan-aturan baru yang diikuti oleh kerumunan

5.   Teori Konvergensi (Horton & Hunt)

Menurut teori ini bahwa perilaku kerumunan muncul dari sejumlah orang yang mempunyai dorongan, maksud, dan kebutuhan serupa.

6.   Teori Malthus

Population, when unchecked, increases in geometric ratio, subsistence increases only in an arithmatnc ratio.

Teori ini mengungkapkan bahwa jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur, sementara jumlah bahan makanan hanya dapat ditingkatkan menurut deret hitung.

7.   Teori Transisi Demografi

Teori ini menyangkal teorinya Malthus. Bahwa dalam negara maju telah terjadi kesalingterkaitan antara industrialisasi dan tingkat kelahiran dan kematian. Menurut teori ini dalam negara maju industrialisasi memasuki 3 tahap Yaitu:

§  Pra industri: tingkat kelahiran dan kematian tinggi dan stabil

§  Transisi : tingkat kelahiran tinggi, namun tingkat kematian turun karena majunya faktor kesehatan penduduk dan kesejahteraannya

§  Tingkat kelahiran dan kematian rendah dan stabil.

8.   Teori frustrasi Agresi (Banton)

Menurutnya bahwa orang akam melakukan tindakan agresi manakala usahanya untuk memperoleh kepuasan terhalangi. Apabila tindakan agresinya tidak ditujukan kepada pihak yang menghalangi, dinamakan agresi yang dialihkan (displaced) dan pihak yang dijadikan sasaran agresi ini menjadi kambing hitam (scapegoat)

9.   Teori Stratifikasi Sosial

a.    Teori Fungsional

Stratifikasi sebagai kumpulan dan sebagai kumpulan dari status-status dan model anaksinya oleh status attainment model, di mana status dirangking menurut prestise dan pandangan. (Tanpa melihat lapisan-lapisan)

b.   Teori Neo Marxist

Peran pernilikan alat produksi mendominasi stratifikasi.

c.    Teori Weberian

Kontak terhadap persefektif Marxist. Model Weberian yang terkenal dikembangkan oleh Goldthorpe yang menganalisa dan membagi masyarakat Inggris berdasarkan pemilikan, kwalifikasi dan, prestise menjadi kelas

d.   Teori Okupasi

Okupasi merupakan indikator tunggal terbaik tentang stratifikasi. Pradigma adalah suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.

10.         Teori Fakta Sosial

a.    Teori Fungsionalisme Struktural

Menekankan kepada kesatuan dan menyebabkan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Menurut teori ini, masyarakat adalah suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-­bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan.

Asumsi dasar : Bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap lainnya. Tokohnya Robert K. Merton.

b.   Teort Konflik

Tokohnya Ralp Dahrendorf. Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh perubahan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya. Setiap elemen dalam masyarakat memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial. Konsep intinya : Wewenang dan paksa. Masyarakat menurut Ralp Dahrendorf sebagai persekutuan yang terkoordinasi terpaksa.

11.         Teori Perubahan Sosial

a.    Teori Evolusi Sosial

Perubahan sosial dipikirkan terkait pada datar tahapan pembangunan nasional. Masyarakat berkembang dari sederhana ke pedesaan, bentuk-bentuk agamis ke deferensiasi yang kompleks dan perkotaan industrial. Tokohnya: August Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim.

b.   Teori Revolusi

Teori ini bersumber dari pendapat dan pikiran Karl Merx yang menekankan akan pentingnya konflik kelas, perjuangan politik dan imperalisme sebagai prinsip mekanisme perubahan-perubahan antar struktural.

12.         Teori Klasik Perubahan Sosial

Teori perubahan sosial Spencer dan Comte dipengaruhi oleh evolusi organik dalam biologi, yaitu perkembangan masyarakat dilihat sebagai evolusi linier seperti halnya berlaku datam pertumbuhan organ manusia. Teori Materialisme Sejarah atau Historical Materialism dari Marx memberikan perhatian utama pada aspek ekonomi, yaitu aneka ragam produksi (made of production) dianggap sebagai landasan yang membuat corak aspek-aspek super struktur, seperti ideologi dan budaya. Apabila terdapat kontradiksi antara supra struktur dan landasan material dalam suatu pembentukan masyarakat maka hal itu akan membawa tranformasi.

Teori Lingkaran atau Putaran (Cyiclicat Theory). Teori ini mengandung beberapa persamaan dengan teori kebangkitan dan kemunduran peradaban yang dikemukakan oleh Ibn Klialdun.

Arnold Toynbec, mengemukakan bahwa suatu peradaban manusia muncul akibat dari reaksi sejumlah kecil golongan cendikiawan yang berhasil menjawab gejolak dan tantangan zaman

13.         Teori Interaksi Simbolik

Teori interaksi simbolik memfokuskan kepada asal interaaksi, yaitu aktivitas sosial yang bersifat dinamik dalam kehidupan para individu. Dalam melakukan interaksi sosial, seseorang akan melibatkan dirinya dengan orang lain, persepektif simbol-­simbol, pengalaman hidup, pikiran dan kemampuan seseorang dalam menentukan perannya.

Menurut George Herbert Mead yang memperkenalkan teori ini, mengemukakan bahwa teori interaksi sosial dirangkum oleh tiga konsep, yaitu (1) pikiran (mind): (2) diri (self), dan (3) masyarakat (society).

14.         Teori Pertukaran Sosial

Menurut C.Hornans dasar teori pertukaran sosial dapat diteliti apabila mereka bertindak untuk memperoleh kepuasan fisik dan sentimen mereka, karena dorongan manusia untuk bertindak serta bertingkah laku ingin memenuhi kebutuhan yang tak logik. Interaksi masyarakat berlangsung dalam proses yang timbal balik, yang dinahami dalam lingkup imbalan (ganjaran, reward) dan biaya (cost). Selain konsep ganjaran dan imbalan, Homans juga mengembangkan konsep behaviurisme Skinner, yang memberi alasan bagaimana cara dan mengapa manusia itu berkelakuan sedemikian rupa sehingga sebagai orang yang memiliki minat, kepentingan dan motif tertentu berlaku demikian manakala mereka bertindak dalam masyarakatnya.

15.         Teori Neofungsional

Teori neofungsional mencoba untuk memperbaharuhi teori fungsional yang terkait dengan teori fungsional pertama, karena (1) teori fungsional berhasil memberikan ekspansi dan gambaran umum tentang model yang wajar tentang hubungan antar bagian-bagian dalam sistem sosial. (2) teori fungsional ini memfokuskan kepada aksi sosial (social action), yaitu yang berakna, dan struktur sosial (social structure), acuan dan saluran belaku atau bertindak. (3) keseimbangan merupakan rujukakan untuk analisis fungsi, baik untuk hemeokeseimbangan yang gerak dan keseimbangan yang diperbaiki diri sendiri dalam menjelaskan perkembangan maupun perubahan struktur sosial. (4) Menunjukkan perbedaan antara kepribadian, kebudayaan dan masyarakat dalam struktur sosial, serta ketegangan akibat perubahan dan kontrol sosial. (5) teori fungsional menumpukkan juga perhatian pada suatu kebudayaan tertentu dan sosialisasi yang terpusat.

Teori Etogenetik

Eto artinya habitat yang mempunyai ciri-ciri tingkah laku dan individu atau kelomnok. Sedangkan yang dimaksud dengan Kant, bahwa gerak gerik atau tingkah laku individu dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Seseorang bertindak sebagai agen yang mengarakan kepada tingkah laku orang lain, atau (2) Seseorang itu bertindak sebagai obyek yang menjawab kekuasaan tarikan ataupun tolakan yang ditimbulkan oleh lingkungan.

16.         Teori instrumen (Thomas Hobbes)

Menunjukkan pada rasio manusia sebagai sesuatu yang membuat manusia cocok untuk masyarakat. Rasio, bagi Hobbes, lebih dari pada sebuah instrumen untuk memungkinkan individu menemukan cara memperoleh dan mempertahankan apa yang diinginkannya. Hobbes menganggap masyarakat dan tatanan politis itu tergantung sebagai kondisi-kondisi yang secara intrinsik tidak menyenangkan tapi yang bagaimanapun diperlukan untuk kelangsungan hidup, piranti-piranti yang menyedihkan dari makhluk-makhluk egois yang terkejut panik yang tak bisa menemukan jalan lain untuk menghindari destruksi timbal balik..

17.         Teori Sistem Sosial Adam Smith

Menurutnya masyarkat sebagaimana juga individu adalah sebuah sistem, atau mesin, yang bekerja bukan karena maksud-maksud manusia. Sistem sosial sebagai mekanisme-mekanisme yang hidup yang bagian-bagaiannya tanpa disadari mempengaruhi kehidupan dan kegiatan keseluruhan. Mekanisme berlangsung dengan mempertahankan keseimbangan-keseimbangan alamiah tertentu, atau equilibrium­equilibrium, yang dapat pulih kembali bila karena alasan-alasan tertentu terganggu.

18.         Teori Intensitas Utama (David 0. Sears)

Pada umumnya terdapat tiga versi teori intensitas, yakni:

1.   Teori intensitas yang menekankan pilihan rational (rational decisio-marking theori). Teori ini mengemukakan bahwa orang memperhitungkan kerugian dan keuntungan berbagai tindakan, serta secara rational mengambil alternatif yang paling baik Mereka memilih mana tindakan yang memberikan keuntungan sebesar mungkin

2.   Teori intensitas yang menekankan Pertukaran. Teori ini menganalisa interaksi interpersonal sebagai rangkaian keputusan rasional yang dibuat orang. Dalam hai ini, perilaku seseorang terhadap orang lain dianggap berdasarkan pertimbangan untung rugi setiap pihak, yang timbul dari berbagai kemungkinan akibat interaksi.

3.   Teori intensitas yang menekankan pemusatan kebutuhan, Teori ini menyatakan bahwa individu memiliki kebutuhan atau motif spesifik tertentu atau berperilaku sedemikian rupa untuk memuaskan kebutuhan itu.

19.         Teori Atribusi

Teori ini mengupas bagaimana manusia menjelaskan peristiwa-peristiwa sosial. Atribusi akibat-akibat yang paling umum menjelaskan perilaku intern dan ekstern sescorang, stabil atau tidak stabil, dan dapat dikendalikan atau tidak.

Salah satu tokoh teori ini adalah Harold Kelley (1967), ia menyatakan bahwa manusia mendasarkan atribusinya kepada tiga jenis informasi, yaitu kejelasan (apakah ini satu-satunya situasi di mana orang tersebut melakukan hal tersebut), konsensus (apakah orang lain melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama), konsistensi (apakah orang tersebut selalu melakukannya dalam situasi seperti ini).

SPECIFIC THEORIES

1.   Teori Pertukaran (Exchange)

Teori ini sama kesamaan fungsinya dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori pertukaran kelompok didasarkan atas interaksi dan susunan hadiah-biaya-dan hasil. Suatu tingkat positif yang minim (yakni hadiah lebih besar daripada biaya) dan suatu hasil harus ada, jikalau diinginkan terdapatnya daya tarik dan afiliasi. Hadiah-hadiah yang berasal dari interaksi-interaksi akan mendorong timbulnya kebutuhan, sementara biaya akan menimbulkan kekhawatiran, frustasi, kerusuhan, atau kelelahan. Teori di atas seperti, propinquity, interaksi, kesimbangan, semuanya memainkan peranan dalam teori pertukaran ini. Hakekat dari teori ini adalah adanya harapan yang ingin dicapai oleh individu, lembaga, atau kelompok, sehingga termotivasi untuk bekerja dan berkreatifitas dengan mengadakan berbagai interaksi sosial dalam batas-batas kewajaran. Tokohnya adalah Thy Bout dan Kelley.

2.   Teori Ide dalam Perubahan Sosial (Spesifik)

Alfred North Whitehead dengan pendekatan idealisnya berpandangan antara lain: bahwa ide umum (ideologi) sdalu mengancam tatanan yang ada. Ide dapat berperan sebagai kekuatan faktor yang mempengatuhi perubahan sosial.  Menurut Weber bahwa ideologi, termasuk ideologi agama, dapat mempermudah perubahan.

3.   Teori Modernisasi

Sebagian besar masyarakat dunia dewasa ini mau tak mau, suka atau tidak suka, sudah terlibat pada proses modernisasi, baik yang sedang berada dalam taraf permulaan ataupun yang sudah atau sedang menjalani dan meneruskan proses (tradisi; modernisasi itu sendiri. Dalam sejarahnya, modenisasi adalah suatu proses perubahan yang menuju pada tipe-­tipe sistem sosial, ekonomi dan politik yang telah berkembang di Eropa barat dan Amerika Utara pada abad 17 yang kemudian menyebar ke negara-negara lainnya di dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s